Wawasan Tanpa Paksaan

Konferwil Dan Masa Depan Organisasi

Bacayuk.com – Gegap gempitanya konfrensi wilayah sedikit banyak sudah mulai terasa, beberapa nama dengan berbagai narasi juga sudah mulai bermunculan, dan mengerucut ke 3 nama utama. Dian Saraswati, Hari Fadly Basyir dan Zulkifliy Rasy.

3 nama tersebut bukanlah nama baru dalam dunia kenotariatan di Sumatera Selatan, mereka sudah belasan bahkan puluhan tahun berkecimpung dalam dunia praktik dan organisasi Notaris.

Yang pertama adalah Ayuk Dian Saraswasti, alumnus Magister Kenotariatan Universitas Indonesia ini telah berpraktet sebagai Notaris puluhan tahun lamanya, yang paling lama masa jabatanya diantara calon yang lain.

Saat ini menjabat sebagai Bendahara Pengurus Wilayah Sumatera Selatan Ikatan Notaris Indonesia. Nama ini didukung oleh sebagian besar pengurus wilayah dan merupakan sosok yang diharapkan mampu melanjutkan legacy kepengurusan Kak Ahmad Wasil, Ketua Pengurus Wilayah beberapa periode ini.

Tentunya dengan pengalaman sebagai pengurus wilayah Ayuk Dian Saraswati tidak akan terlalu sulit untuk memandu roda organisasi Notaris di Sumsel.

Titik lemah dari Ayuk Dian Saraswati ini adalah dia tidak pernah menjabat sebagai Ketua Pengurus Daerah, pengalaman berorganisasinya dianggap tidak runtut, karena langsung duduk sebagai pengurus wilayah tanpa memiliki pengalaman sebagai pengurus organisasi di daerah.

Hal ini lah yang memunculkan kesan elitis dan eksklusif, Ayuk Dian Saraswati dianggap hanya merepresentasikan para notaris Kota, dan tidak akan mampu untuk mengakomodir dinamika dan problematika orginasisasi di daerah, terlebih daerah pelosok seperti daerah OKU di ujung timur dan Pagar Alam, Linggau dan juga Musibanyuasin diujung Barat.

Yang kedua adalah Hari Fadly Bashir, Ketua Pengurus Daerah Ikatan Notaris Indonesia OKU Raya, kandidat yang walaupun paling muda baik dari segi usia maupun masa jabatan notarisnya, tapi secara pengalaman organisasi tidak perlu diragukan lagi, dengan tangan dingin dan kepiawaian dialah menjadikan Pengda IPPAT P15O dulu menjadi Pengda dengan saldo kas organisasi terbesar di Sumatera Selatan, mengalahkan saldo kas Pengurus Wilayah di saat itu, bahkan beberap waktu yang lalu masih sempat mengadakan seminar sebagai sarana upgrading pengetahuan para anggota. Akan tetapi pembawaanya yang sangat idealis menjadikan Mas Hari dianggap kaku dan kurang luwes bagi sebagian orang.

Hal inilah yang menjadikan beberapa anggota organisasi mempertanyakaan apakah kira-kira gaya kepemimpinan model Mas Hari Fadly akan cocok dengan langgam organisasi Ikatan Notaris yang terkadang sangat dinamis.

Kandidat yang ketiga adalah Kak Zulkifly Rasy, nama yang sudah melegenda di dunia kenotariatan, mantan Ketua Pengda INI Kota Palembang ini dalam kapasitasnya sebagai pengurus pusat baik INI maupun IPPAT telah melanglang buana ke seantero negeri.

Pemahaman yang mendalam akan teori dan praktek kenotariatan menjadikan Kak Zulkifly sebagai langganan untuk dimintai pencerahanya sebagai saksi ahli diberbagai persidangan. Ini adalah modal kepemimpinan yang luar biasa, pengalaman dan pemahaman akan sisik melik kenotariatan pasti akan bermanfaat untuk mengayomi para anggota.

Tapi disisi lain permasalahan inilah yang mungkin sedikit menjadi ganjalan, jam terbang dan agenda beliau yang luar biasa padat merayap menjadikan sebagaian anggota khawatir apakah Kal Zul akan mampu membersamai 9 Pengda INI yang membawahi 17 Kabupaten Kota di Sumsel ini.

Tantangan Organisasi Kedepan

Itullah ke 3 kandidat yang akan berkompetisi pada konferwil tanggal 28 Mei mendatang, Siapakah yang paling cocok untuk menahkodai organisasi Notaris di Sumatera Selatan, jawabanya terletak di tangan para anggota, yang pasti kedepannya organisasi mengahadapi tantangan yang tidak mudah, diantaranya adalah bagaimana keberadaan organisasi benar-benar dirasakan oleh para anggota.

Organisasi bukan hanya semata-mata media iuran, patungan, dan seremoni belaka, tapi organisasi merupakan tempat berhimpun, tempat para anggotanya saling asah, saling asih dan saling asuh, media untuk berbagi pengalaman, pengetahuan dan bertukar relasi serta jaringan, bukan tempat untuk saling menebar permusuhan dan kebencian.

Pengurus Wilayah yang baru, nanti diharapkan mampu mengangkat harkat dan martabat profesi yang semakin hari semakin tiada nilai dan arti, digempur kapitalisasi yang melahirkan persaingan harga yang tidak sehat. Pengurus Wilayah yang baru juga harus berupaya menjaga daya tawar notaris ditengah hubungan instansi dan lembaga mitra, sehingga posisi notaris bukanlah sebagai jongos buruh upah harian dan tukang ketik semata tapi sebagai pejabat publik sebagaimana di amanatkan undang-undang dan terucapkan dalam sumpah jabatan.

Kontemplasi Dan Konklusi

Dalam hati kecil saya, terbesit pemikiran, andaikan tiga kandidat yang luar biasa ini, mau berkolaborasi, saling bergandengan tangan satu sama lainnya, niscaya organisasi notaris sumatera selatan akan menggapai pencapaian yang luar biasa,

Dengan keluesan dan jaringan Ayuk Dian Saraswasti, ditambah kepiawainya Mas Hari dalam tata kelola organisasi, juga keilmuan dan pengalaman Kak Zulkifli Rasy, organisasi Notaris Sumatera Selatan akan mampu menjadi wadah tumbuh kembang dan berhimpun seluruh anggotannya.

Andaikan, siapapun yang terpilih nanti, berkenan berbesar hati merangkul kandidat yang kalah untuk masuk kedalam kepengurusan inti, seperti sekretaris atau bendahara, maka saya yakin masa depan organisasi yang lebih baik adalah sebuah keninscayaan.

Apakah mungkin ? Mungkin saja, toh Negarawan kita sudah mencontohkanya, Jokowi merangkul Prabowo sebagai menteri, dalam masa berikutnya Prabowo merangkul Cak Imin sebagai mentrinya juga, padahal mereka pernah berkompetisi, tidak hanya sebatas wilayah provinsi saja, tapi seluas wilayah Indonesia raya.

Akhirnya Selamat berkonferwil INI Sumatera Selatan, Jayalah Notaris Indonesia.

Heriyono Tardjono. Penulis adalah Anggota Biasa Ikatan Notaris Indonesia_Sumatera Selatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *